Sosok Wakil Gubernur Aceh, Siwah Syekh: Muhammad Nazar Paling Ideal

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Advokatnews|Banda Aceh – Berbagai elemen masyarakat terus membicarakan terkait masalah pendamping Gubernur Nova Iriansyah dalam sisa jabatannya, bahkan isu tersebut sudah tersebar luas di berbagai komponen baik lokal maupun luar Aceh.

“Artinya bahwa Aceh itu sangat penting dan wagub itu sangat penting. Tetapi jangan sekedar mengisi dengan figur yang tidak layak. Sekalipun dari kader internal partai pengusung atau keluarga dekat para pimpinan partai pengusung, jangan dipaksakan jika tidak memenuhi syarat, apalagi sisa masa jabatan tidak lama dan tidak boleh untuk coba-coba sekedar hawa keu jabatan (Suka Jabatan),” kata Munawar akrab di sapa Siwah Syehk melalui pesan WhatsApp, Rabu, 3 Februari 2021

Sambung Munawar, sekarang yang nampak cukup serius melakukan proses pengusungan calon wagub pengganti itu adalah PNA, salah satu partai pengusung Irwandi-Nova pada Pilkada 2017.

“Ada tiga nama figur yang dibursakan PNA, yaitu Muhammad Nazar mantan wagub Aceh dan Ketua Umum Partai SIRA, Muharuddin mantan anggota DPRA dan Muhammad MTA salah satu pengurus PNA yang juga eks kader partai SIRA,”kata Siwah Syekh juga sosok loyalitas Irwandi

Dari ketiganya, menurut Siwah Syekh, yang paling layak dari segala sisi adalah Muhammad Nazar mantan wagub, dan publik tahu itu. Juga publik Aceh yang ada di Aceh maupun luar Aceh semuanya menginginkan Muhammad Nazar,” tandasnya.

Sosok Pria Asal Bireuen itu menjelaskan, memang idealnya mantan wagub Muhammad Nazar seperti yang diinginkan masyarakat. Warga Aceh hingga pengamat sudah mengetahui dari dulu jika beliau itu memang layak untuk mengisi pos jabatan wagub Aceh.

“Saya selalu memantau respon publik hingga ke warung kopi, kalangan kader PNA sendiri, kader partai-partai lain juga hingga masyarakat awam, mantan berbagai tim relawan Irwandi-Nova dan pengamat. Semuanya menilai pos jabatan wagub yang masanya tersisa tidak terlalu lama lagi, memang mesti diisi oleh figur sekaliber Muhammad Nazar,” jelas mantan Ketua Tim Pencitraan Irwandi Yusuf Pilkada 2017 lalu.

“Saya sendiri sebagai salah seorang yang sangat aktif memenangkan pasangan Irwandi-Nova dalam Pilkada 2017 lalu juga sepakat. Maka PNA hendaknya segera memfinalkan saja nama figur yang terkenal hingga di luar negeri itu, yaitu Muhammad Nazar sebagai kandidat tunggal. Untuk apa buang-buang waktu lagi sedangkan sisa jabatan tak terlalu lama, dari semua nama yang beredar hanya bang Nazar yang cocok untuk sisa masa jabatan itu,” tegasnya lagi.

“Jika saja PNA salah memfinalkan nama tunggal, apalagi kalau sempat tiba-tiba ada figur lain di luar tiga nama yang sudah direkom itu di calonkan dan di finalkan, maka hal itu akan merugikan PNA sendiri. PNA bisa ditinggalkan masyarakat. Konsistensi dan komitmen PNA dalam berpolitik sedang diuji dalam hal ini,” kata Siwah Syekh sambil mengingatkan.

Lebih jauh ia menyatakan, figur tokoh Muhammad Nazar mantan Wagub dan aktifis pejuang yang telah berjasa untuk Aceh itu, kelayakannya bukan saja dari sudut pandang kemampuan, pengalaman, jasanya dalam perjuangan dan kesuksesannya selama menjadi wagub yang mendampingi bang Irwandi dulu.

Tidak tanggung-tanggung peran Nazar beserta jaringannya sangat berpengaruh dalam memenangkan pasangan Irwandi-Nova pada Pilkada 2017, juga menjadi penting. Artinya sesosok Nazar bukan orang luar, tetapi memiliki kontribusi lebih dalam memobilisasi suara maupun dukungan material.

“Hingga kini saya masih sangat loyal dengan mantan gubernur Irwandi Yusuf, maka wajib saya kasih saran, terlebih lagi PNA sendiri melalui Sekjennya Miswar Fuady telah mempublikasikan ke media massa minggu lalu terkait rencana finalisasi cawagub dari PNA dengan sinyal bahwa PNA akan mengutamakan yang telah berpengalaman dan layak dari segala sisi,”katanya.

Menurut Siwah Syekh lagi, bang Irwandi sendiri sebagai ketua umum PNA dari awal telah berupaya agar figur yang mengisi jabatan itu haruslah yang layak dan mampu, Bahkan dari kalangan internal PNA-pun, karena belum ada yang layak untuk jabatan itu, beliaupun melarangnya.

“Bang Wandi adalah seorang politisi demokratis dan apalagi secara hukum juga tak wajib seorang kandidat wagub harus berasal dari partai pengusung. Itu sudah tepat, sebab jabatan dalam sistem demokrasi dimanapun bukanlah warisan untuk keluarga maupun partai-partai politik. Komitmen ini akan dilihat publik tentunya. Kita sepakat dengan prinsip itu, haruslah yang layak dari segala sisi dan mampu membangun Aceh bersama gubernur Nova Iriansyah. Bukan karena partai pengusung dan bukan keluarga,” sarannya menutup pendapatnya kepada wartawan.(ZF)

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail