Setelah Diautopsi, Seekor Harimau Sumatera Ditemukan Mati Keracunan.

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Advokatnews|Aceh Selatan-Dalam tiga hari terakhir, Gampong Kapa Seusak, Kecamatan Trumon Timur Kabupaten Aceh Selatan dihebohkan ditemukannya Seekor Harimau mati dalam perkebunan diduga keracunan setelah memangsa ternak warga pada Senin (29/6/2020).

Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, Kamis (2/7/2020), Saat dikonfirmasi Advocatnews.com, mengatakan kondisi bangkai harimau mengalami autolysis atau putrefaction. Selain itu adanya perdarahan dari lubang nasal hidung dan bulu gampang rontok.

“Dari hasil Autopsi, jaringan di bawah kulit harimau sebagian mengalami memar dan adanya luka toreh vulnus incisum diduga akibat terkena kawat duri pada bagian perut bangkai harimau tersebut,” jelasnya.

“Dari bagian lidah harimau, Jelas Agus, mengalami sianosis, dan dinding saluran pencernaan, trakea dan lambung mengalami hyperemi (perdarahan) dan menemukan zat yang diduga racun insektisida berwarna keunguan.

“Saat diambil sampel dari Kambing, keseluruhan organ tersebut yang dimangsa harimau diduga ada dilumuri zat racun,” ujarnya.

Kematian satwa yang dilindungi tersebut diduga keracunan, beberapa warga Kapa seusak Kecamatan Trumon Timur harus berusan dengan Pihak Kepolisian untuk dimintai keterangan

Mengenal hal tersebut dengan Kematian Seekor Harimau Sumatera diduga keracunan.

Adi Samrida anggota DPRK Aceh Selatan yang juga merupakan ketua Fraksi Partai Aceh menjumpai pihak BKSDA Aceh mendiskusikan terkait konflik satwa – manusia tersebut. Diskusi ini berlangsung di kantor BKSDA Aceh pada 1/7/2020 yang ditemui langsung oleh Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto.

Dalam diskusi yang disampaikan kepada Advocatnews, bahwa konflik satwa di Trumon Timur telah terjadi secara berulang, tidak hanya terdampak pada korban harta juga pernah terjadi korban jiwa warga.

Untuk itu, Adi Samrida meminta kepada pihak BKSDA Aceh juga melakukan upaya pencegahan secara permanen sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Masyarakat harus diberikan edukasi khusus sebagai bentuk kolaborasi dalam penanganan dilapangan,” ucapnya,

Menurutnya, masyarakat Trumon Timur telah lelah dengan berbagai konflik, mulai dari konflik masa GAM, kemudian berkonflik dengan perusahaan HGU terkait sengketa lahan, dan sekarang berkonflik dengan satwa dilindungi Harimau Sumatera.

“Tentunya, pihak BKSDA Aceh dalam upaya penanganan harus dilakukan secara bijak. Jangan sampai terjadi efek domino karena trauma dan takut berlebihan sehingga memperparah kondisi dilapangan. Karena dari pihak BKSDA Aceh juga banyak ditemukan kelemahan-kelemahan dalam penanganan konflik satwa di Aceh Selatan,” lanjutnya.(Zulfandi)

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail