Mahalnya Harga Sebuah Kata ‘Maaf’ Dari Seorang PJ Gubernur Suganda

Spread the love

Oleh Muhamad Zen

Pangkalpinang, 18 September 2023

==================================

Advokatnews.com — Kecepatan derap langkah Pj Gubernur Babel dalam menjalankan fungsinya sebagai pejabat Gubernur yang di tunjuk oleh pemerintah pusat saat ini dinanti masyarakat akan capaiannya.

Masyarakat sebagai pemilik daulat harus tahu apa saja yang telah dan akan dilaksanakan oleh pejabat Gubernur sebagai penyelenggara pemerintah provinsi Babel.

Logika ini yang semakin hari semakin pudar bahwa sesungguhnya penyelenggara pemerintahan itu bertugas
menghadirkan serta memberikan layanan prima kepada masyarakat sebagai pemilik daulat dan bukan sebaliknya.

Tentunya di setiap daerah pasti ada para tokoh masyarakat yang dianggap sebagai tetua bijak seperti Lembaga Adat Melayu dan sebagainya.

Tetua-tetua ini pasti nya sudah paripurna dalam kehidupan khususnya kehidupan pribadinya, artinya untuk tinggal mengaktualisasikan diri buat negeri.

“Jangan ikak begasak bawek – bawek nama kami”

Seperti hal nya di Babel terkait sengkarut pendapat atau kebijakan Pj Gub yang menuai tafsir beragam dari masyarakat, bahwa tetua-tetua di Babel tidak dapat di intervensi oleh pihak manapun juga.

Saya yakin bahwa para tetua ini berusaha untuk menjaga psikologis masyarakat dan tidak akan pro kemanapun.

Ikak dek kan mampu meli kami para tetua-tetua ne, jadi jangen nua igek arogan dalam berpendapat dek kawa kena “tulah” kek urang tue.

Jadi tidak benar kalau tetua-tetua Babel saat ini berada pada salah pihak yang perang dingin (Naziarto vs Pandapotan), kehadiran mereka justru mengabarkan bahwa tetua-tetua peduli terhadap masyarakat Babel.

Salah satu fungsi para tetua sebagai tokoh masyarakat di samping selalu dan terus menjaga psikologi masyarakat juga harus meningkatkan nilai tawar Babel dengan petuah bijak negarawannya.

Saya sangat meyakini para tokoh akan menjunjung tinggi nilai kedaerahan dalam berbangsa dan bertanah air dalam bingkai bhineka tunggal ika.

‘Mahalnya Harga Sebuah Kata ‘Maaf’ Dari Seorang PJ Gubernur Suganda’.

Sebagai manusia biasa kita pernah melakukan kesalahan, entah kepada orang tua, sahabat, pasangan hidup bahkan kepada keluarga kita sendiri.

Jika kita berada dalam situasi demikian, penting bagi kita untuk meminta ‘maaf’ ketika kita salah.

‘Maaf’ adalah ungkapan permintaan atau permohonan ataupun penyesalan dari sesuatu kesalahan.

Minta ‘maaf’ juga menjadikan kita manusia yang bijaksana dan bertanggungjawab.

Hanya saja, mengakui sebuah kesalahan dan minta ‘maaf’ ternyata bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Tidak jarang kita merasa sulit untuk meminta ‘maaf’ kepada seseorang karena gengsi dan khawatir tidak dimaafkan.

Sebagai orang tua cukup dengan satu kata ‘maaf’ semua masalah selesai.

Terkesan buang badan dan merasa benar hingga sampai saat ini tidak ada kata ‘maaf’ yang keluar dari mulut Suganda akibat ucapan – ucapannya.

Cerminan ini yang menjadi resistensi dari para tokoh terhadap Pj Gubernur Babel.(*)