Surat Terbuka Untuk Susi Pudjiastuti Mantan Mentri Yang Terhormat

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Jakarta, Advokatnews – Saya sepakat sama mantan mentri Susi melarang pengambilan bibit Lobster seharusnya dia buat juga larangan pengambilan ikan Tongkol atau tuna secara berlebihan, krn ikan tongkol takut punah,klo diambil ribuan ton begitu. kan masyarakat umumnya mampu mengakses ikan tongkol ketimbang lobster harganya mahal, Nelayan yang tangkap aja jarang makan lobster.

#bu susi kalau udah gk jadi mentri mending diam aja, anda itu banyak dosanya sama nelayan dan pengusaha ikan menengah bawah yg ditangkap2i gegara permen larangan menangkap bibit lobster anda. Jgn bicara kesejahteraan nelayan, aturan yg anda buat itu tajam kebawah paham!

Saya ingin sekali bicara sama anda tentang keadilan dan kemanusiaan. Anda tidak akan bisa lg ganti air mata keluarga nelayan itu yg anda paksa jadi bajak laut dilaut NKRI, dilaut dimana mereka mencari nafkah, dan membesarkan anak2 mereka sebagai aset bangsa, mereka nelayan itu pekerjaanya sudah sulit, melaut bertaruh nyawa kadang-kadang saat melaut rugi krn hasil tangkapnya tidak sesuai dgn oprasional yg dikeluarkan, pun demikian mereka masih berinvestasi untuk bangsa ini dengan menyekolahkan anak-anaknya, dan apakah anda tau gegara PERMEN anda, anda buat mereka pekerja halal jadi buronan laut, jadi incaran Polisi Airut.

Dan pengusaha lokal yang baru mapan sedikit, yang ia beli bibit Lobster dari nelayan harus jadi bangkrut lg gegara kena kasus hukum yg mahalnya bikin bangkrut.

Ibu tuh sudah merusak senyum nelayan-nelayan kecil konvensional. Bu coba sadari dosa anda. Penegak hukum kita ini blm semuanya menjalankan keadilan, polisi, jaksa, hakim semua masih sulit berjalan lurus.Permen ibu ini dijadikan oleh oknum penegak hukum utk memeras pengusaha lokal yg ketangkap.

Dan terjadilah pasar gelap yg luar biasa dahsyat lebih2 dari narkoba. Bahkan penjualan bibit ini hrs kordinasi sampai bintang-bintang ibu. Ibu buatkan jalan bagi oknum-oknum penegak hukum utk menekan dan memeras.

Mereka pengusaha nelayan lokal habis ratusan juta klo sudah kena kasus kejahatan permen ibu. Ya allah di tempat kami wilayah selatan, itu menjadi cerita yg kami dengar kalau2 ada yg ketangkap masalah benur.

Dan sy beberapakali mendampingi sbgai advokat nelayan dan pengusaha ikan yg ketangkap dan dijadikan terdakwa  kejahatan Permen Ibu yg sebetulnya aneh, ibu kan yg bilang klo bibit dan lobster ini tuhan yg punya dan tuhan yg besarkan, loh kok ini ibu buatkan orang yang tangkap barang tuhan jadi bersalah dan dihukum.

Apa ibu sudah tanya sama tuhan? Atau ibu dapat perintah langsung dari tuhan untuk tangkap2i orang yg tangkap itu bibit lobster.

Coba saja selama 5 tahun ibu jadi mentri ibu buatkan prototipe tempat pembesaran bibit benur terintegrasi seperti dinegara lain dan dibiayai oleh kementrian ibu.

Demi allah sy akan cium kaki ibu karena ibu sudah berikan oleh-oleh yang baik untuk nelayan kita dan bangsa ini. 

Baru ibu terapkan aturan bibit tidak boleh beredar keluar. Karena kita sudah punya tempat pembesaranya sendiri. Klo itu sudah ibu lakukan sy korbankan darah sy bu untuk terdepan bantu tegak’an aturan pelaranganya bu, krn alasan nasionalime bisa diterapkan pada jalan dan tempat yg tepat. 

Tapi nampaknya ibu lebih senang selfie saat menenggelamkan kapal. Dan di publish media secara berlebih. Saya mohon sama ibu sudahi polemik dan kegaduhan yg ibu buat, kan ibu sudah dapat citra yg baik krn banyak tenggelamkan kapal, Jangan sampai citra ibu rusak gegara air mata keluarga nelayan dan pengusaha kecil yg diputus berasalah dan jadi penjahat dilaut gegara pemen ibu.

Terimakasi dan salam hormat!

Sayyid Ahmad Yazdi R Alaydrus, SH  (Hum.Red).

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail