Selamat Jalan Abang Winarwan, Sang Arsitek dari Pulau Bangka

Spread the love

Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya

Babelku.com — Sosok arsitek yang sangat kuat karakternya, tegas dan memiliki prinsip, memahami budaya dan dikenal memiliki idealis dalam berkarya. Di daerah kelahirannya, banyak sudah karya yang ia tinggalkan.

Innalilahi Wa Innailaihi Rajiuun, kalimat pembuka dari sebuah WA yang dikirim oleh sahabat sekaligus senior saya, Hongky Listyadhi masuk ke handphone saya menjelang Maghrib yang mengabarkan telah meninggal dunia seorang putra asli Bangka Belitung bernama Ir. Dr. Abang Winarwan, MSA., M.Arch., pada tanggal 5 Oktober 2023 dan dimakamkan pada tanggal 6 Oktober 2023 di San Diego Hills Memorial Park.

Abang Winarwan asal Kota Mentok, kelahiran 27 Desember 1950 di Kota Pangkalpinang. Melanjutkan kuliah di Belgia (1985) dan mengambil Master of Architectural Engineering di Belgia (1987) dan sebelumnya beliau adalah lulusan Universitas Parahyangan dan ITB Bandung.

Beliau pernah mengabdi sebagai Dosen di Universitas Parahyangan jurusan Arsitektur. Menurut sahabatnya, Hongky Listyadhi, sosok Abang Winarwan yang beliau kenal adalah sosok yang sangat peduli dengan perkembangan arsitektur Bangka Belitung.

Secara tidak langsung, project-projectnya yang sudah beliau lakukan di tanah kelahiran adalah Museum Mentok, Gedung Tudung Saji (Kantor Walikota Pangkalpinang) yang dibangun pada era
kepemimpinan Zulkarnain Karim. Termasuk penataan kota Pangkalpinang kawasan Dealova (kawasan rumah dinas pemerintah Kota Pangkalpinang), kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, kampus UBB, Club House PT. Timah Tbk dan lain-lain.

Abang Winarwan yang memiliki ciri khas rambut putih ini adalah sosok orang yang pertama kali membawa teman-teman arsitek Parahyangan termasuk Prof. Johanes Widodo, Dr. Basuki, Dr. Purnama Salura dan Prof. Izumida Hidio dari Jepang.

Mereka semua ini sudah pernah diajak oleh Abang Winarwan berkeliling memutari Bangka Belitung hingga ke ujung lautan dengan didampingi Hongky Listyadhi yang juga adalah seorang arsitek.

Abang Winarwan adalah salah satu pendiri Yayasan Budi Mulia yang diketuai oleh Djohan Riduan Hasan. Dalam hal ini, saya sebagai salah satu saksi bagaimana sosok Abang Winarwan sangat peduli dengan pendidikan di daerah kelahirannya, terutama almamater dimana ia pernah menempuh pendidikan.

Saya yang waktu itu “diajak” ikut membantu beberapa pertemuan alumni dan menulis buku Budi Mulia, merasa begitu kuat dan kokoh karakter para alumninya, terlebih kecintaan mereka pada almamater dan daerah kelahiran.

Nampaknya, Abang Winarwan memiliki kepedulian besar akan “hilirisasi” pendidikan di Bangka Belitung.
Menurut Hongky Listyadhi, sosok Abang Winarwan adalah arsitek yang idealis dan berkarakter.

Beberapa bangunan yang diarsiteki oleh beliau sangat nampak karakternya,
misalnya, bangunan fisik kampus Universitas Bangka Belitung, jika dilihat secara jeli, begitu nampak karakternya sebagai sebuah lembaga pendidikan di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain itu, Gedung Tudung Saji (Kantor Walikota Pangkalpinang) memiliki karakter yang lebih kokoh lagi. Dari sini kita bisa melihat sosok Abang Winarwan adalah arsitek tidak malu-malu dalam
memvisualisasikan identitas kedaerahan. Misalnya, tang Gedung Tudung Saji (Kantor Walikota Pangkalpinang) selain tudung saji sendiri, identitas pohon pinang dan ini sangat ditonjolkan dalam bentuk tang.

Saya yakin, tidak banyak yang paham soal ini, termasuk penguasa didalam gedung (kantor) tersebut. Sebab seringkali saya ungkapkan pemimpin “pentol korek” yang tidak paham karakter dan budaya daerah dalam membangun, maka pembangunan selama kepemimpinannya tidak memiliki karakter kecuali ramai di media sosial oleh dirinya dan para penjilatnya. Ah sudahlah!.

Selain di daerah kelahirannya, Bangka Belitung, Abang Winarwan banyak menghasilkan karya arsitektur di berbagai daerah di Indonesia. Memang, sebab tidak tinggal di daerah kelahirannya, nama Abang Winarwan tidak banyak dikenal orang, tapi karyanya tetap bermanfaat, menginspirasi dan itu adalah karya putra daerah.

Selamat jalan abangku, Abang Winarwan. Terima kasih atas karyamu untuk daerah kelahiran kita. Saya bersaksi abang adalah putra Bangka Belitung yang “dak taipau”, dak banyak omong dan mengutamakan karya ketimbang rebut nama dan kuasa.

Abang telah berbuat dalam senyap, tak banyak yang tahu. Saya bangga pernah mengenal dirimu, ngopi dan diskusi bersama, baik di Bangka maupun kala saya main ke Bandung atau Jakarta. Karyamu pada daerah sudah dibuktikan dikala banyak orang yang nampang muka di baliho tanpa karya!
Salam Karya!(*)