SEKILAS PANDANG TENTANG M. SOFWAT NASUTION

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Advokatnews, Mandailing Natal Sumut – Saya kenal baik dari kecil abanganda Brigjen (Pur) M. Sofwat Nasution.Bagi kami di kampung beliau adalah idola se usia saya.

Betapa masyarakat Panyabungan menyambut gembira ria ketika beliau lolos masuk AKABRI dan selepas usai pendidikan masuk bergabung di satuan elit Kopassus kebanggaan negeri ini.

Tidak banyak putra terbaik bangsa ini terpilih bergabung di satuan elit Kopassus dan kalaupun ada terhitung jari apalagi berkarier cemerlang hingga jadi Brigjen adalah anugerah luar biasa buat kita masyarakat Panyabungan.

Mayoritas masyarakat Panyabungan memperbincangkan beliau sebagai putra daerah terbaik dan teladan buat kami adik” kelasnya di SMA Negeri Panyabungan masa itu.

Kota Panyabungan memiliki satu”nya SMA Negeri ketika itu bisa menghantarkan siswa terbaiknya masuk menjadi perwira ke jajaran satuan elit Kopassus adalah menjadi buah bibir generasi muda se usia saya dan hingga kini hanya beliau satu-satunya putra terbaik Panyabungan yang mampu mengukir prestasi segemilang itu tentu wajar kalau adik-adik kelasnya seperti saya meneladani beliau sebagai kakak kelas yang berprestasi luar biasa.

Saya menyaksikan perjuangan beliau semenjak sekolah di kampung tidak ditopang oleh pasilitas yang berkecukupan dan memadai seperti halnya anak-anak yang sekolah di kota besar berkecukupan dengan ketersediaan pasilitas maksimal.

Kami masa itu sekolah di kota kecil Panyabungan serba minim pasilitas dimana lampu listrik peneranganpun tidak punya, bahkan koran harian terbitpun kami baru bisa baca besok, terlambat satu hari sebab kota Panyabungan itu berada di paling selatan Sumut berbatasan dengan Sumbar, taman bacaan nyaris tak tersedia, informasi kita miskin dukungan finansial sangat minim hanya modal semangat dan daya tarunglah modal utama.

Masa itu kota Panyabungan termasuk satu ibu kota kecamatan tertinggal di banding dengan kota kecamatan di Pulau Jawa.

Walau pasilitas minim remaja Sofwat selalu semangat belajarnya tinggi dan taat beribadah, hidup ini mesti diperjuangkan meraih masa depan gemilang dan tidak mengenal menyerah dengan bekal apa adanya penuh kesabaran menjalani gelombang hidup siap tempur di medan mana saja senantiasa berserah diri pada yang kuasa segala rupa cobaan ia lalui dengan cemerlang (Rura na sa rura na ipota-pota ma sa na bisa na mandalani dalan pardangolan na sude suada)

Berbahasa melayupun masih terbata-bata karena kita sehari-hari di kampung berbicara pakai bahasa daerah Mandailing sudah barang tentu betapa sulitnya orang daerah seperti kami dapat tampil gemilang bersaing dengan orang kota.

Anak kampung ini adalah petarung sejati, meniti hidup selepas SMA mencoba keberuntungannya mengadu nasib ke kota, coba masuk tes AKABRI dan ternyata lulus dan meniti karir sebagai perwira muda hingga perwira tinggi penuh pengabdian tulus ikhlas kepada negara sebagai prajurit sejati yang telah dibekali sejak di akmil sukses gemilang hingga pinish purna bhakti.

Saya saksi mata betapa gelombang perjuangan yang dilalui jenderal ini penuh lika liku hidup dan cobaan yg luar biasa ia lalui dengan tabah setiap masalah dihadapinya dengan sabar termasuk memikul tanggung jawabnya menggembleng adik-adiknya yang banyak di tinggal oleh kedua orang tua masih kecil-kecil dan ada beberapa yang masih anak yatim adalah konsekwensi keluarga besar. Mereka dengan penuh kasih sayang kakak beradek kompak jalani hidup penuh kebersamaan dan beliau tampil sebagai abang yg baik juga menjadi sudara yang arif bijaksana membangun harmonisasi persaudaraan yang akrab saling menyayangi satu sama lainnya patut menjadi teladan.

Jenderal Sofwat adalah pria penyayang tapi sangat tegas (mungkin dampak kristalisasi milternya membumi dalam dirinya) hal ini dapat saya rasakan sendiri bergaul dengan beliau selama beberapa tahun terakhir ini mendampinginya sebagai sekretarisnya pada organisasi alumni yg sama-sama kami bina.
Beliau melangkah sangat cermat tidak banyak bicara tapi banyak berbuat nyata. Sikap intelijennya kental terasa dalam bersikap dan mengambil putusan sebagai basis intelektualnya sebagai seorang militer yang kerap bertugas sebagai intelijen selama ini. Orang-orang intelijen di kalangan militer adalah orang pilihan yg tingkat kecerdasannya diatas rata-rata. Biasanya orang intelijen sangat sulit dikelabui orang lain karena itu orang intelijen sering kali orbit jadi pemimpin oleh sebab itu saya dapat katakan bagi masyarakat kabupaten Mandailing Natal adalah anugerah luar biasa memiliki seorang putra daerah terbaik Brigjen (pur) M Sofwat Nasution berkenan mengabdikan dirinya di sisa umurnya rela pulang kampung demi cintanya pada kampung halaman, ia wakafkan dirinya dimasa purna bhaktinya untuk kampung halaman luar biasa patut di syukuri masyarakat Madina dan semestinya disambut gembira oleh rakyat Madina penuh barokah.

Jenderal Sofwat ini saya kenal baik dalam bersikap, kerap kali ia rela mengorbankan kebahagiaan dirinya demi meraih kebahagiaan bersama terutama demi menjaga kebahagiaan orang-orang sekelilingnya yang beliau sayangi, hal ini wujud dari tingginya dedikasi dan solidaritas menjaga kesetiaanya dibarengi dengan ketaatannya beribadah adalah mental pemimpin yang dirindukan kini terlebih-lebih masyarakat Kabupaten Mandailing Natal setelah tiga kali pilkada berlalu di kabupaten ini sejak kabupaten ini dimekarkan masyarakat menanti-nanti sosok pemimpin yang sayang pada rakyat tentu Jenderal M Sofwat Nasution menurut hemat saya adalah sosok bakal pemimpin yang pas menuju Madina makmur sejahtera.

Semoga rakyat Kabupaten Mandailing Natal yg berhak memilih kian cerdas memilih bupatinya agar kelak dirasakan loncatan kemajuan daerah ini.

Mari berpartisipasi gunakan hak pilih mu, ditangan mu masa depan mu menentukan siapa pimpinan mu yang sayang pada mu. Jangan mau terpengaruh karena money politik tergadai masa depan daerah mu menuju kejayaan dan kemakmuran bersama. Hindari menerima suap karena penerima dan pemberi suap adalah dosa (Haram hukumnya). (st. Akb)

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail