Meluruskan Langkah Kuda (Menjaga Legacy Kuasa)

Spread the love

Oleh Muhamad Zen

Pangkalpinang, 2 September 2023

 

Advokatnews.com — Kekuasaan menjadi titik fokus seorang pejuang atau petarung politik, lazimnya mereka akan mengerahkan segala kemampuan dan kekuasaan mereka bagi yang sedang berkuasa.

Setia dan tak mau berubah tetap menjadikan air laut sebagai minuman sejati nya itulah ciri penguasa.

Dalam mengamankan langkah kemenangan segala strategi pun akan di pakai dengan melibatkan seluruh relasi kuasa.

Kalau boleh di analogikan dengan sebuah permainan catur pion pun akan dimaksimalkan perannya. Tapi terkadang fakta dan harapan selalu berbeda membuat sang raja harus membuat analisa – analisa cepat untuk merubah jalan kemenangan. Sering kali kekhawatiran muncul menakuti diri sang raja (haus kekuasaan).

Merebut dan mempertahankan kekuasaan adalah sebuah dorongan untuk membangun dinasti kekuasaan agar mendapatkan legitimasi dan dukungan masyarakat, agar tetap dipilih kembali untuk berkuasa pada masa berikutnya.

Biasanya kekhawatiran terbesar adalah hilang simpati pada perdana menteri, tapi sejatinya inilah awal kesalahan yang dibuat sang raja yang takut turun tahta.

Motivasi mempertahankan dinasti kekuasaan adalah menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya, sebab jalan instan menumpuk kekayaan dengan berkuasa.

Kekayaan yang berhasil ditumpuk selanjutnya dapat digunakan untuk membiayai proses agar kekuasaan kembali berada di lingkaran dinasti yang telah dibangun, kekayaan tersebut digunakan sebagai instrumen untuk melenggangkan dinasti kekuasaan.

Pemegang kekuasaan dan para anggota dinasti cenderung menghabiskan anggaran untuk proyek-proyek yang tidak jelas juntrungannya. Diduga proyek-proyek tersebut dilakukan seadanya dan hal hasil tidak berimbas pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan perbaikan pelayanan publik.

Kembali ke papan catur, sumber daya yang paling mungkin mudah dipakai adalah sang kuda. Langkah ” L ” kuda sukar dipahami dan hanya orang – orang yang peka dapat mendeteksi gerakannya. Walau dalam relasi kuasa langkah kuda pun harus cermat menuju kemenangan.

Karena yang harus disingkirkan adalah perdana menteri terpaksa sang raja meluruskan langkah kuda (tak lazim) nya sembari mengadu perdana menteri dan mengganti kembali dengan mengorbankan sang pion.

Selesai mengganti perdana menteri, kembali langkah lurus kuda memakan korban sang penjaga gudang senjata (arsenal) yakni sang benteng karena sang raja butuh banyak senapan, dan akhirnya penjaga rumah logistik sang gajah yang jadi korban berikutnya dari langkah kuda yang lurus.

Harapan besar pun tersematkan di dada sang raja bahwa akan memenangkan pertempuran berikutnya, langkah kuda lurus tak lazim pun digunakan dengan meremukkan akal dan nurani sang raja.

Jauh di lubuk hatinya sang raja memahami bahwa tiada rencana seindah rencana Sang Illahi Robbi.(*)

 

Muhamad Zen Aktivis Muda Bangka Belitung yang aktif diberbagai organisasi.
Ia memegang beberapa jabatan penting diberbagai lembaga diantaranya, LSM TOPAN-RI, Karang Taruna, LMPI, Pondok Aspirasi Bangka Belitung, Kompenssel dan Organisasi Pers PJID DPD Babel.
Selain itu Ia juga aktif dunia Jurnalistik, saat ini sebagai Pemimpin Redaksi media babelku.com dan Kepala Perwakilan Media Nasional Advokatnews.com.