Oleh : AHMADI SOFYAN
DI BANGKA ini, perantauan dari Jawa dan Madura mampu menggarap lahan menjadi produktif. Sedangkan anak-anak muda Bangka dari “kelekak” & kampung pergi ke kota, guna melamar jadi karyawan dari usaha-usaha yang dibuka oleh perantauan Padang.
====
TULISAN ini sebagai salah satu tanda cinta saya kepada tanah kelahiran. Seringkali saya ungkapkan: “Cintai Pulau Bangka, walau kadangkala kau merasa tak dicintainya”. Sebab, saya pribadi merasa betapa Pulau Bangka sangat membahagiakan karena orang-orangnya lucu dan menggemaskan sekaligus sering bikin “gerigit ati”. Tapi itulah cinta, pasti banyak fenomena dan romantika didalamnya.
Melanjutkan tulisan saya sebelumnya _“Riuh Madu Riuh Kumbang”,_ bahwa betapa sekarang ini kita menyaksikan fenomena yang cukup mengkhawatirkan.
Hampir semua Desa & Dusun di Bangka Belitung sudah pernah saya datangi. Tidak sedikit sudah, saya melihat lahan-lahan yang pernah dimiliki oleh masyarakat berubah menjadi perkebunan yang dimiliki oleh Perusahaan besar dan Pengusaha dari kota. Masyarakat kita begitu muda menjual lahan yang ada. Pun demikian dengan aparatur Desa. Suatu hari, saya pernah diminta “ngoceh” disebuah Desa di Kabupaten Bangka Barat. Selain warga, hadir aparat Desa, termasuk RT & RW-nya. Dihadapan masyarakat itu saya ngoceh: “Aparat yang bodoh adalah aparat desa yang menjual lahannya, sedangkan aparatur pemerintah desa yang cerdas adalah mereka yang berpikir & bertindak bagaimana mengelola lahan desanya”. Spontan warga riuh bertepuk tangan. Saya sedikit heran, sebab menurut saya gak ada yang aneh dengan kata-kata saya diatas.
Selesai saya ngoceh & hendak pulang, banyak warga & pemuda menyalami saya.“Kami senang Atok Kulop ngomong cem tu tadi, keras dan tegas”. Lantas ada berbisik: “Lahan Desa kami sudah terjual oleh aparat desa, pas abang ngomong cem tu tadi. Mereka-mereka yang duduk samping abang itulah yang jual e”. Kaget juga saya mendengar laporan warga. Akhirnya saya pun pulang dan tersenyum puas. Dalam hati saya berpikir: “Waduh, dianggap provokator juga saya ini”.
Saya “ngoceh” seperti ini bukan tanpa alasan, sebab betapa sedih kala melihat orang-orang desa tak lagi memiliki lahan pribadi. Padahal mereka lahir, hidup dan tinggal di kampung. Akibat begitu gampang kita menjual, sehingga lahan-lahan yang ada dimiliki Perusahaan, Pengusaha Kota dan orang-orang Kota yang menjadikan kebun sebagai pelepas kesumpekan. Lalu kini muncul fenomena, perantauan Jawa & Madura begitu cerdas dan “kawa” menggarap lahan yang ada, baik itu di kampung, hutan bahkan pinggiran kota. Mereka begitu kreatif memanfaatkan lahan yang kadangkala kita anggap gak seberapa luasnya. Mereka oleh dengan baik dengan pertanian sayur-sayuran bahkan rumput (untuk dijual). Mereka beternak sapi & kambing serta budidaya ikan. Sedangkan kita lagi-lagi bangga hanya sebagai konsumen, tak pernah jadi produsen.
Betapa tidak, fenomena orang kampung membeli cabe, terong, sayur-sayuran, kunyit dan sebagainya harus ke kota. Padahal betapa kita masih bisa bertanam disisa-sisa lahan yang masih kita miliki (sebelum ludes terjual). Betapa orang-orang kita di kampung berkata: “Asak mahal ge ko jual”. Sedangkan orang-orang Madura & Jawa berkata: “Semahal apapun harganya, kita beli. Sebab tak ada tanah harganya makin murah, yang ada pasti makin mahal”. Siapa yang menang?
So, jangan heran, fenomena produsen di tanah kelahiran kita, hasil pertanian, peternakan dan budidaya nanti adalah bukan orang Bangka, tapi perantuan Jawa dan Madura. Bagaimana dan dimana anak-anak muda “kelekak” & kampung?
Dari “Kelekak” Ke Kota
PERKEMBANGAN zaman plus teknologi yang kian pesat, kerapkali membuat anak-anak muda menganggap tempat kesuksesan adalah kota dan kebahagiaan itu adalah penampilan & gaya. Akhirnya “gagal paham”, menjadikan riuh anak-anak muda “kelekak” & kampung menuju kota walau utuh tidak bahagia.
Beberapa tahun silam, saya ngobrol dengan salah satu perantauan dari Padang yang memiliki usaha perdagangan di Kota Pangkalpinang. Kepada saya ia berceloteh dengan bangga betapa jualan apapun & harga berapapun di Bangka ini pasti laku. Cukup bermodalkan dipuji banyak uang, orang Bangka gampang menjadi konsumtif.
Akhir-akhir ini, ternyata tidak hanya Warung & Restoran Padang, saya menyaksikan betapa orang-orang Padang yang memang jeli melihat peluang & hebat dalam semangat perniagaan, sudah membuka toko kebutuhan masyarakat sehari-hari, bahasa saya gunakan adalah membuka pasar mini. Mereka menjual aneka ragam kebutuhan masyarakat sehari-hari dari mulai ikan, daging, sayur-sayuran, beras, bumbu dapur dan semua kebutuhan dapur dijadikan satu wadah dagangan. Karyawannya? Anak-anak Bangka, termasuk tukang parkirnya. Pun demikian, toko-toko pakaian di pinggir jalan dikuasi kawan-kawan kita dari Padang. Karyawannya? Lagi-lagi anak anak “kelekak” dan kampung di pelosok Bangka.
Anak-anak muda kita masuk kota untuk menjadi “jongos” ketimbang mengolah lahan dengan bertani, beternak atau budidaya sehingga bisa menjadi Boss. Anak-anak muda kita lebih senang baju bersih duit cekak ketimbang baju kotor duit banyak. Di beberapa kesempatan, kepada anak-anak muda di Desa saya sampaikan: “Kalau orang kota ke Desa, mempersiapkan diri menjadi Boss, mereka beli lahan dan bercocok tanam sebagai hiburan dari kesumpekan kota. Kalau anak muda Desa ke Kota, hanya ada 2 hal dilakukan, yang pertama unjuk gaya dan yang kedua mempersiapkan diri menjadi jongos, karena melamar kerja”.
Oya, ada satu lagi nih perlu direnungkan! Coba cek data Caleg-Caleg yang sekarang lagi menebar aroma janji mengalahkan aroma durian, berapa banyak isinya adalah orang-orang perantauan dari Padang, Jawa & Madura? Siapa Timsesnya? Lagi-lagi orang Bangka, sebab mereka bergantung hidup sama Boss dimana mereka bekerja dan butuh dana “berkah Pemilu”. Artinya, di bidang pemerintahan pun kedepannya kita (urang Bangka) akan tersisihkan. Itulah demokrasi, kalau tak diiringi dengan kecintaan hati pada tanah kelahiran, akan gampang terjual dan tergadaikan.
Solusi? Jangan tanya saya, sebab saya sendiri hanyalah petani kecil di kebun tepi sungai yang lebih senang menyendiri ketimbang meramaikan pergolakan pencarian jati diri apalagi kursi.
Salam Cinta Bangka!(*)
(Kebun Tepi Sungai, 09/02/2024)
Ahmadi Sofyan, akrab disapa Atok Kulop. Dikenal kritis dan judes baik dalam tulisan maupun pembicaraan. Saat ini ia banyak menghabiskan waktunya di tanah kelahiran di Desa Kemuja, tepatnya di Kebun tepi sungai.