Advokatnews|Aceh Tengah-Hari Santri Nasional diperingati pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Dengan adanya Hari Santri Nasional, diharapkan Umara dan Ulama dan masyarakat saling membantu dalam meningkatkan pembinaan dan pengembangan Santri. Mencari sosok santri menjadi mutiara di tengah matinya idealisme ke Islaman Kata Ustadz Ridwan SH, di Kediamannya Desa Kuala II, Kecamatan Bintang, Kamis (22/10/2020).

Lebih lanjut kata Ridwan SH, Saat ini santri tak lagi nampak sebagai pergerakan intelektual mengawal pemimpin negeri ini agar mangurus rakyatnya dengan benar. Santri tidak lagi peka terhadap persoalan keumatan yang makin terzalimi. Santri mestinya menjadi bagian dari umat terbaik yang dilahirkan untuk negri ini.

“Jika dicermati pergerakan santri akhir-akhir ini, sepertinya lumpuh dan sekarat. Padahal, santri bukan hanya agen perubahan sebagaimana disematkan kepada santri pada umumnya, namun melekat juga pada dirinya visi kemusliman. Pergerakan santri memiliki dua dimensi utama, dimensi horizontal sebagai pergerakan sosiologis dan dimensi vertikal sebagai pribadi yang terikat dengan nilai teologis”.

” karakteristik pergerakan santri adalah sosiologis yang berdimensi kemasyarakatan, sekaligus teologis yang berdimensi keagamaan. Artinya, Islam sebagai landasan dan gerakan sosial politik sebagai aktivitasnya. Selain tentu saja aktivitas berdimensi saintifik.
Seluruh aktivitas santri –baik terkait dengan sosial, politik, maupun saintifik– adalah refleksi dari kesadaran teologis. Inilah istimewanya santri. Karena itu, pergerakan santri setidaknya harus mencerminkan kepeloporan, keteladanan dan kemuliaan”, terangnya.

Tambah Ridwan, Melalui hari santri nasional ini, mari tumbuhkan semangat perjuangan, mari menjadi mutiara yang menawarkan solusi pada umat dan pemimpin negri ini ditengah padamnya nilai agama yang dijadikan sebagai solusi terhadap semua permasalahanya.

“Kita memang tidak punya wewenang yang luas, tapi kita harus manfaatkan mimbar-mimbar menasah dan masjid sebagai wewenang dakwah kita”.

Seorang santri tidak menawarkan solusi atas permasalahan bangsa ini selain solusi Islam.
“Bukankah satu hal yang aneh jika seorang muslim menawarkan sekulearisme atau sosialisme sebagai solusi bangsa? Bukankah satu hal yang aneh jika seorang muslim tidak meyakini Islam itu sendiri? Bukankah satu hal yang ganjil jika santri lebih fasih menuturkan teori-teori Marxisme dan Adam Smith ketimbang ayat-ayat Alquran dan hasil ijtihad para ulama? Santri adalah intelektual muslim, bukan yang lain”, katanya.

Perlawanan para santri atas penjajahan masa lalu adalah fakta tak terbantahkan. “Pekikan takbir telah menjadi energi paling kuat untuk terus menjaga semangat dan gelora perjuangan mencapai kemerdekaan negeri ini.
Dan hari ini, mari kita buktikan kembali bahwa kita mampu”, tutup Ustadz Ridwan. (Pahmisyah Pitra).