Pasir sirkon yg dibeli secara ilegal siap dikirim kepada bos Eddy Paulus. Foto : Moko.

Advokatnews, Katingan I Kalimantan Tengah – Bisnis pasir sirkon atau puya ilegal yang didatangkan dari desa Karya Unggang, dari Sungai Kalanaman dan dari desa Sampang belakang kantor Depag, kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng) semakin hari semakin berjaya. Sebab tidak ada satu orangpun atau satu media pun yang berani menegur atau memberitakannya. Bahkan para pejabat didaerah tersebut seolah-olah tidak berkutik dengan aksi parabigboss pasir sirkon ilegal yang ada dikabupaten Katingan, Kalteng tersebut.

Salah satu penampung pasir sirkon terbesar yang ada didesa Kereng Pangi, jalan Cilik Riwut komplek Pelabuhan Kereng Pangi, kabupaten Katingan Kalteng  atas nama Probon setiap hari membeli pasir sirkon dari para pencari dan penggali pasir sirkon ilegal dengan harga yang bervariasi tanpa takut ditangkap polisi, padahal pos polisi cukup dekat dengan gudang pasir sirkon milik Probon.

Karena tidak ada halangan yang berarti, akhirnya Probon dan penampung pasir sirkon lainnya seperti Ancau, Asad, Santo semakin menjadi-jadi menampung pasir sirkon ilegal dan efeknya adalah pengrusakan hutan dan lingkungan secara besar-besar dilokasi yang banyak mengandung pasir sirkon. Bahkan hutan lindung dan hutan produksi pun mereka garap seenaknya untuk mendapatkan Emas dan pasir sirkon.

Akibat penggalian tanah untuk mencari emas dan pasir sirkon ini, Bumi Katingan jadi porak poranda. Dimana-mana terdapat lubang-lubang besar yang  mempunyai kedalaman sampai dua puluh meter kedalam tanah dan mempunyai keluasan mencapai ratusan meter diatas permukaan tanah. Ribuan hektar tanah disana rusak parah, sementara parabigbos nya hidup mewah tanpa tersentuh hukum.

Perbuatan ilegal minning yang diduga keras tidak memiliki ijin Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Ayat (1)  Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berbunyi : Setiap usaha dan atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL/UPL wajib memiliki ijin Lingkungan. Jonto Pasal 109 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berbunyi : Setiap orang yang melakukan usaha atau dan atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Ayat (1) dipidana dengan Pidana penjara paling singkat satu (1) tahun dan paling lama tiga (3) tahun dan denda paling sedikit Rp1Milyar dan Paling banyak Rp3 Milyar.

Hari Selasa (12/01) tampak digudang Probon yang terletak dijalan cilik Riwut komplek Pelabuhan Kereng Pangi tumpukan pasir sirkon yang diperolehnya dengan cara membeli kepada para penambang liar yang ada didesa Karya Unggang dan dari sungai Kalanaman serta dari desa Sampang belakang kantor Depag Katingan.  Rencananya satu hari ;lagi pasir sirkon tersebut akan dikirim ke Banjarmasin, Kalsel melewati kota Palangka Raya.

“Mungkin satu hari lagi pasir sirkon ini akan dikirim ke Banjarmasin, Kalsel,  melewati Palangka Raya, Kalteng. Kalau ntidak salah nama bigbosnya Denny Paulus,” ujar salah satu pekerja yang sedang membersihkan lokasi disitu.

Salah satu pengali pasir sirkon yang berhasil diwawancarai Advokatnews.com mengatakan bahwa mereka melakukan pekerjaan ilegal ini karena sudah tidak ada lagi pekerjaan lain selain menggali pasir sirkon. “Kami bekerja ini karena terpaksa, kalau ada lowongan pekerjaan lain kamipun pasti berhenti bekerja seperti ini,” Ujar Parjo seraya mengatakan bahwa hasil galian mereka itu dijual kepada Asad, salah satu penampung pasir sirkon yang ada didesa karya unggang. (Riduan / Moko).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here