Advokatnews, Katingan I Kalimantan Tengah.- Penambangan atau penggalian tanah besar-besaran yang sangat merusak lingkungan dan alam sekitarnya telah terjadi bertahun-tahun di Bumi Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng), atau tepatnya didesa Karya Unggang dan sekitarnya. Penggalian emas dengan menggunakn alat berat berupa eksavator ini hampir puluhan tahun  terjadi, namun pihak berwajib disana kewalahan  menanganinya. Sebab, begitu pihak berwajib melakukan razia besar-besaran para penambang emas tanpa ijin (Peti) ini semuanya tiarap atau tidak melakukan kegiatan apapun. Namun begitu aparatnya sudah pulang, kembali para peti ini melakukan penggalian tanah besar-besaran memakai puluhan alat berat untuk mencari emas dan pasir sirkon.

Salah satu koordinator penambang emas tanpa izin (Peti) bernama Bagong yang dijumpai dilokasi penambangan liar tersebut mengatakan bahwa mereka ini hanyalah pekerja atau pesuruh saja. Yang memiliki modal atau alat berat tersebut semuanya bisbos dari Palangka Raya dengan jabatan tinggi dikesatuannya. “Kami ini hanya pekerja atau orang suruhan saja. Kalu alat berat itu semuanya milik para bigbos di Palangka Raya, jelas Bagong seraya menyebutkan dari kesatuannya masing-masing.

Akibat penggalian tanah untuk mencari emas dan pasir sirkon ini, Bumi Katingan jadi porak poranda. Dimana-mana terdapat lubang-lubang besar yang  mempunyai kedalaman sampai dua puluh meter kedalam tanah dan mempunyai keluasan mencapai ratusan meter diatas permukaan tanah. Ribuan hektar tanah disana rusak parah, sementara parabigbos nya hidup mewah tanpa tersentuh hukum.

Perbuatan ilegal minning yang diduga keras tidak memiliki ijin Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Ayat (1)  Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berbunyi : Setiap usaha dan atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL/UPL wajib memiliki ijin Lingkungan. Jonto Pasal 109 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berbunyi : Setiap orang yang melakukan usaha atau dan atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Ayat (1) dipidana dengan Pidana penjara paling singkat satu (1) tahun dan paling lama tiga (3) tahun dan denda paling sedikit Rp1Milyar dan Paling banyak Rp3 Milyar.

Didesa Karya Unggang ini juga banyak terdapat para penampung pasir sirkon atau Fuya. Salah satu penampung pasir sirkon atau Fuya dari bumi Katingan ini adalah PT. Kurnia Alam Abadi (PT.KAA) yang beralamat dijalan Cilik Riwut KM 19 desa Hampalit, kecamatan Katingan Hilir, kabuaten Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng). Selama pemantauan dalam satu minggu terakhir ini, hampir ratusan orang datang menjual pasir sirkon yang diperoleh secara ilegal keperusahaan tersebut.

Ketika temuan ini dikonfirmasikan kepada penggelola gudang bernama Riman, dia tidak bisa menjelaskan dari mana asal pasir sirkon yang dibelinya itu. Menurut Riman direktur perusahaan ini bernama Eddy warga dari Surabaya, Jawa Timur.

selain PT.KAA, didesa Karya Unggang sendiri banyak terdapat bos-bos penampung pasir sikron ilegal. Mereka menyediakan gudang pembersihan. Setelah pasir sirkon itu dibersihkan lalu dikirim ke Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat dan ada juga dikirim ke Pulang Pisau dan Banjarmasin (Kalsel). Menurut para penampung pasir sirkon ilegal ini, dalam berbisnis pasir sirkon ilegal tersebut mereka menjual secara bebas. “Kalau ada pembeli berani dengan harga tinggi disitulah kami menjualnya. Kami tidak terikat dengan satu bigbos saja,” ujar boss pasir sirkon illegal ini dengan logat bahasa Banjar yang sangat kental.

Didesa Karya Unggang sendiri nama-nama bigbos pembeli pasir sirkon ilegal ini banyak disebutkan, antara lain ada nama Eddy dari Surabaya (Jatim), Edwin dari Palangka Raya (Kalteng), Kuncoro dari Pangkalan Bun (Kobar). Selain itu ada nama Ancau dari Kereng Pangi. “Mereka itu semuanya bersaing dalam membeli pasir sirkon ilegal lewat orang kepercayaanya disini,”jelas beberapa warga desa Karya Unggang. (Riduan / Moko).