Advokatnews || Sampit, Kalteng – Sepuluh tahun mengabdi jadi guru honorer di sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Norhidayah, milik Yayasan Norhidayah, desa Pundu, kecamatan Cempaga Hulu, kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), Dra. Darni dipecat oleh kepala sekolah Ilpida Hartati, S.Ag dengan alasan tidak bisa diajak kerjasama.

Akibat pemecatan dengan alasan yang dibuat-buat tersebut, puluhan orang tua murid melakukan protes keras. Aplagi setelah mengetahui bahwa honor yng seharusnya diterima oleh Dra. Darni tidak dibayar sama sekali.

Menurut orang tua murid, bahwa guru Darni adalah sosok yang mengayomi, mendidik dan jujur. Tanpa guru Darni, tidak mungkin MTs Norhidayah jadi seperti sekarang ini.

“Ibu guru Darni itu orangnya baik, jujur dan tidak pernah macam-macam, dia yang jadi penggerak disekolah ini,” ungkap puluhan orang tua murid yang ditemui oleh Advokatnews dilapangan.

Sekolah MTs Norhidayah itu dulu hanya bangunan terbuat dari kayu dan hampir roboh. Siswanyapun belajar hanya bisa pada waktu sore hari karena tidak ada gurunya. Setelah kedatangan ibu Darni yang jebolah FIP Biologi universitas Muhammadiyah Malang, Jatim, akhirnya sekolah yang ada didesa Pundu ini mulai terlihat menggeliat.

“Saya masuk dan mengajar di MTs Norhidayah ini atas permintaan pak Ali yang waktu itu menjadi kepsek Madrasah Iftidaiyah (MI) dan bu Ilpida Hartati, S.Ag ikepsek MTs Norhidayah. Permintaan mereka sempat saya tolak berkali-kali. Karena sebetulnya niat saya datang ke Kalteng ini untuk kerja diperusahaan sawit. Tetapi karena mereka memohon terus akhirnya permintaan tersebut saya penuhi,” jelas ibu Darni dengan wajah sedih.

Ibu Darni mulai mengajar disekolah MTs Norhidayah mulai bulan Februari 2010 sedangkan mengajar di Madrasah Iftidaiyah pada bulan Juli 2010. dengan gaji yang sangat kecil tidk bisa untuk dipakai hidup sebulan. Tetapi karena melihat kondisi waktu itu tidak ada guru, dengan sukarela Darni menerima tawaran tersebut.

Pada Tahun 2016 Dra. Darni diangkat jadi ketua komite III. Tetapi dia bingung apa yang harus dikerjakan, karena Darni melihat komite I dan komite II yang ada selama ini tidak mengerjakan apa-apa. Menyadari hal itu Darni akhirnya berunding dengan teman-temannya bagaimana caranya agar bisa membangun gedung MTs Norhidayah supaya tidak meminjam rumah orang terus.

“Akhirnya didapatkan ide, untuk mencari dana pembangunan gedung MTs Norhidayah Pundu mereka sepakat untuk meminta-minta di Pasar Pundu,”Itupun kalau diizinkan oleh Yayasan dan kepala sekolah. Alhambulillah akhirnya diizinkan,” cerita Dra. Darni dengan wajah basah ditetesi air mata.

Selama ini guru-guru di MI dan MTs Norhidayah Pundu diterpa issu tidak sedap yaitu bahwa mereka suka makan uang kotak amal dan tanah yang sudah diwakafkan akan ditarik kembali oleh yang punya karena tidak ada pembangunan sama sekali.

Ditambah lagi murid-murid di MTs Norhidayah minta untuk masuk pagi hari karena kalau sekolah masuk siang sampai sore hari, murid-murid banyak yang ngantuk, panas, cape ditambah lagi tidak ada mobil jemputan dari perusahaan setempat.

Dari faktor tersebut akhirnya Darni terpanggil untuk memenuhi keinginan murid-muridnya. Seminggu kemudian akhirnya Dra. Darni rela jadi “pengemis” dipasar Pundu dengan membawa ember demi untuk mengumpulkan uang recehan untuk pembangunan gedung MI & MTs Norhidayah Pundu.

Setelah sumbangan terkumpul sebesar Rp 2,950 Juta, dimulailah dengan membangun pondasi. Melihat ada gerakan pembangunan dilokasi tanah wakaf. Akhirnya dari komite II memberikan uang sebesar Rp 8 Juta lebih. Dan pada bulan Maret 2016 dimulailah secara resmi pembanguna pondasi MTs Norhidayah.

“Alhamdulillah akhirnya pada bulan Februari 2017 murid-murid MTs Norhidayah sudah bisa masuk pagi, walaupun pembangunan gedungnya belum selesai seratus persen,” jelas Darni.

Nama guru Dra. Darni melejit dan terkenal didesa Pundu sebagai guru yang ramah, jujur, pintar, disukai murid-murid dan guru-guru. Dan pada akhirnya MTs Norhidayah juga dapat bantuan setiap bulan dari beberapa perusahaan sawit yang berlokasi didesa Pundu untuk honororium guru-guru, namun uang tersebut seringkali tidak sampai dan kalaupun sampai ketangan guru-guru nilainya berkurang separo.

Melihat hal itu ibu Darni sering menanyakannya kepada Kepsek terkait uang sumbangan dari perusahaan dan sumbangan dari pihak ketiga lainnya. Namun pertanyaan dari Darni itu tidak mendapat jawaban sama sekali dari sang Kepsek.

Ketika sumbangan dari PT Makin dan pihak ketiga lainnya dikonfirmasikan kepada Ibu Ilpida Hartati, S.Ag pada hari Jum’at (18/06), Ilpida menjelaskan bahwa sumbangan PT Makin yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit itu setiap bulannya hanya Rp 500 Ribu saja.

“Sumbangan PT. Makin itu hanya Rp500 ribu saja setiap bulannya. Dan sebaiknya anda datang kesekolah ini aja supaya kita enak bicara dan saya keberatan kalau ini diberitakan,” ujar Kepsek ini dengan nada bergetar.

“Pada Bulan September 2020 tiba-tiba Dra. Darni dipecat oleh Kepsek MTs Norhidayah, ibu Ilpida Hartati, S.Ag yang disebut Dra. Darni bersekongkol dengan Wahid orang dari Yayasan Norhidayah. Darni dipecat dengan alasan tidak bisa diajak kerjasama dan tanpa Darni pun Ilpida Hartati S.Ag dapat mengurus MTs Norhidayah seorang diri,” ujar Darni menirukan kata dan kalimat sang kepsek.

Ketika kasus pemecatan guru honorer yang berprestasi ini dikonfirmasikan kepada Kepsek MTs Norhidayah, Ilpida Hartati, S.Ag pada hari Jum’at (18/06) Ilpida menjelaskan bahwa Dra. Darni dipecat itu disebabkan karena ketika diminta untuk mempertanggugnjawabkan keuangan yang dikelolanya sampai saat ini tidak dilaporkan.

“Itulah sebabnya dia dipecat,” jelas Kepsek MTs Norhidayah Pundu.

“Ibu Darni itu apa jasanya sehingga dia berani melapor kepada wartawan. Kalau mau tahu segalanya silahkan hubungi pak Nurwahid,” ujarnya seraya mengatakan bahwa dia masih sibuk dan segera menutup telepon. (Riduan/Moko)